4.11. BAHWA TUBUH KRISTUS DAN KITAB SUCI ITU BAGI JIWA YANG BERIMAN ADALAH YANG PALING PERLU

26 08 2009

Murid berkata:

1. O Tuhan Yesus, yang sangat manis, betapalah manisnya bagi jiwa yang bertakwa, bila Engkau mempersilakannya untuk duduk pada perjamuanMu, di mana tidak ada lain makanan yang dihidangkan selain Engkau sendiri, satu-satunya yang terkasih dan yang diinginkannya melebihi segala-galanya yang dapat dikehendaki hati.

Dan alangkah manisnya bagiku, untuk mencucurkan air mata penuh kasih yang tulus di hadiratMu dan beserta dengan Magdalena yang saleh itu menyirami kakiMu dengan air mataku.

Tetapi di manakah kesalehanku? manakah air mataku yang suci itu, yang mengalir dengan derasnya? Sungguh, semestinya di hadiratMu dan di hadapan para malaekatMu hatiku harus menyala karena kasih dan menangis karena gembira.

Sebab dalam Sakramen Engkau sungguh berada di dalam hatiku, meskipun Engkau tersembunyi dalam rupa yang lain.

2. Sebab mataku tidak akan tahan melihat Dikau dalam terang IIahimu; bahkan seluruh bumi tidak akan kuat bertahan di hadapanMu yang cemerlang mulia itu. Oleh sebab itu Engkau berkenan membantu kelemahanku dengan menyembunyikan diri dalam Sakramen.

Sungguh aku memilikiMu dan berbakti kepadaMu, seperti para rnalaekat di dalam surga mengabdi Dikau juga; tetapi sementara aku dengan kepercayaan, sedangkan mereka dengan bertemu muka tanpa berselubung lagi.

Kini aku harus sudah puas dengan terang iman yang sejati dan hidup dalam iman ini hingga terbitlah hari terang kekal dan musnalah bayangan-bayangan.

Sebab bila telah datang yang sempurna-sempurna (1 Kor.13 : 10) maka akan berhentilah sambutan Sakramen karena umat yang telah bahagia di surga tidak lagi memerlukan Sakramen sebagai jalan ke arah kebahagiaan.

Sebab mereka sudah bergembira dengan tidak ada akhirnya di hadirat Tuhan dan memandang kemuliaanNya dengan muka bertemu muka; dan setelah mereka menjadi semakin terang mengenai IIahi yang tak dapat ditangkap itu, maka mereka menikmati Sabda Allah yang telah menjelma, seperti pada permulaan sampai kepada kekal.

3. Apabila aku merenungkan mujijat-mujijat ini, maka segala hiburan rohanipun menimbulkan kesedihan bagiku; sebab selama aku belum dapat memandang Tuhan

dalam kemuliaanNya dengan tiada selubung, maka segalanya yang kulihat dan kudengar di dunia ini, kuanggap tiada berharga sama sekali.

Engkaulah menjadi saksiku, ya Allah, bahwa tiada sesuatupun yang mampu menghibur aku, tiada seorang makhlukpun dapat memberi kepuasan kepadaku, selain Engkau, ya Allahku yang aku ingin memandang selama-lamanya.

Tetapi ini tidaklah mungkin, selama aku masih berada dalam hidup yang fana ini. Oleh karena itu aku harus memaksa diriku untuk sangat sabar, dan dalam segala keinginanku menyerah kepadaMu.

Sebab juga umatMu yang kudus, ya Tuhan, yang kini dengan gembira telah beserta dengan Dikau berada di kerajaan surgawi, dahulu juga menanti kedatangan kemuliaanMu dengan kepercayaan dan kesabaran yang besar, sewaktu mereka masih hidup di dunia ini.

Adapun yang mereka telah percaya, aku percaya juga; apa yang mereka harapkan, aku harapkan juga, dan di mana mereka telah tiba, di situpun aku percaya akan tiba juga dengan pertolongan rahmatMu.

Sementara itu aku akan hidup di dalam kepercayaanku, diperkuat oleh teladan orang-orang kudus.

Selain itu kitab-kitab sucipun merupakan penghiburan dan kaca kehidupan; lebih-lebih TubuhMu yang maha kudus adalah upaya yang istimewa, untuk mencapai kebahagiaan dan merupakan pula tempat perlindungan bagiku.

4. Aku merasa, bahwa ada dua perkara yang sangat penting bagiku dalam hidup ini, dan tanpa dua perkara itu hidup yang celaka ini olehku tak dapat tertahankan lagi.

Selama aku berada dalam kurungan badan ini, aku mengakui, bahwa ada dua hal yang kubutuhkan secara mutlak, yaitu makanan dan cahaya.

Oleh karena itu Engkau telah memberikan TubuhMu kepadaku, seorang yang papa, sebagai santapan bagi jiwaku dan badanku; dan telah Engkau berikan sabdaMu sebagai sebuah pelita dimukaku (Masm. 119 : 105).

Tanpa dua perkara itu tak dapatlah aku hidup dengan baik; sebab sabda Allah adalah cahaya bagi jiwaku dan SakramenMu adalah santapan kehidupan.

Dua perkara ini dapat juga dibandingkan dengan dua meja, yang ditempatkan sebelah-menyebelah di dalam bilik perbendaharaan gereja yang kudus.

Yang satu ialah meja altar yang kudus, tempat roti kudus, yaitu: Tubuh Kristus yang sangat Mulia.

Yang kedua ialah meja hukum IIahi yang memuat pengajaran kudus, yang mengajar iman yang benar dan yang membawa kami dengan tetap ke dalam tirai, tempat yang maha kudus.

5. Ya Tuhan Yesus, cahaya dari pada cahaya yang kekal, kami mengucap syukur atas meja pengajaran kudus, yang telah Engkau sediakan bagi kami dengan perantaraan hamba-hambaMu, para nabi dan Para rasul serta pengajar-pengajar lainnya.

Pencipta dan Penebus umat manusia, kami mengucap syukur kepadaMu, yang telah mengadakan perjamuan agung, di mana Engkau telah menyediakan DiriMu sendiri sebagai makanan, bukan anak domba paska sebagai lambang, melainkan benar-benar Tubuh dan DarahMu yang maha kudus, untuk memperlihatkan cintakasihMu kepada dunia.

Dengan perjamuan kudus ini Engkau menggembirakan umatMu yang beriman dan membuat mereka kemabukan maknawi dengan piala keselamatan; dan beserta kami para malaekat yang kudus menikmati perjamuan kami, tetapi mereka menikmatinya dengan kenikmatan yang lebih besar.

6. Alangkah mulia dan penuhnya kehormatan jabatan imamat itu, yang diberi kuasa mengkonsakrir dengan sabda kudus Tuhan yang mulia, memberkatinya dengan bibir, memegangnya dengan tangan, menyambutnya sendiri dan membagikannya kepada orang-orang lain!

Betapa suci tangan mereka seyogyanya, betapa bersih mulut mereka, betapa murni tubuh mereka, betapa suci seyogyanya hati para imam yang sering kali menjadi tempat tinggal Tuhan segala kemurnian.

Dari mulut seorang imam, yang begitu sering menyambut Sakramen Kristus, tak boleh keluar perkataan yang tidak suci, tidak senonoh dan tidak berguna.

Cahaya matanya, yang biasa melihat Tubuh Kristus haruslah terang dan murni.

Tangannya yang biasa menyentuh Pencipta langit dan bumi, harus suci dan diarahkan ke langit.

Khusus ditujukan kepada para imam perkataan yang tercantum dalam hukum: Hendaklah kamu kudus, karena kuduslah Aku, Tuhan dan Allahmu (Im. 19 : 2).

7. Semoga rahmat, ya Allah yang maha kuasa, membantu kami supaya kami, yang telah mau menerima jabatan imamat, diperkenankan mengabdi Dikau dengan pantas dan saleh dalam kemurnian, pun pula dengan suara kalbu yang baik.

Dan meskipun kami tak dapat hidup murni sebagaimana mestinya, namun sudi apalah kiranya memberi, supaya kami dapat menyesali dengan semestinya kejahatan-kejahatan yang telah kami buat, dan dengan rendah hati dan kehendak baik yang tetap dapat semakin giat mengabdi Dikau untuk seterusnya.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: