4.05. TENTANG KEMULIAAN SAKRAMEN DAN TENTANG PANGKAT IMAMAT

20 08 2009

Yang Terkasih Bersabda:

1. Meskipun Engkau mempunyai kemurnian bagaikan malaekat dan kesucian seperti Santo Yohanes Pemandi, namun engkau belumlah pantas menyambut dan melayani Sakramen ini.

Sebab bukanlah karena jasa manusia, bahwa manusia mengkonsakrir dan melayani Sakramen Kristus ini dan menyambut roti para malaekat sebagai santapan.

Betapalah mulia pangkat imamat dan betapalah luhurnya, sebab kepadanya diberi kekuasaan yang tidak diberikan kepada para malaekat.

Sebab hanya para imamlah yang ditahbiskan secara sah dalam gereja mempunyai kekuasaan untuk mempersembahkan misa kudus dan mengkonsakrir Tubuh Kristus.

Sebab imamlah hamba Tuhan; ia mempergunakan sabda Allah sesuai dengan perintah dan penetapan Allah. Tetapi sebenarnya yang bertindak di sini secara tidak kelihatan ialah Allah dan kepadaNya segala sesuatu takluk dan segala-galanya menurut kepada perintahNya.

2. Oleh karena itu dalam Sakramen yang maha mulia ini, hendaklah engkau lebih percaya kepada Allah yang maha kuasa daripada kepada panca inderamu, atau pun salah suatu tanda yang tampak.

Maka hendaklah engkau sambut Sakramen ini dengan takut dan hormat.

Hendaklah engkau periksa dirimu sendiri dan renungkanlah, betapa besar tanggung jawab tugas yang diserahkan Uskup kepadamu dengan menaruh tangan di atasmu.

Lihatlah, engkau telah menjadi imam dan ditahbiskan untuk merayakan rahasia yang kudus; maka engkau hendaklah berusaha supaya engkau dengan setia dan takwa mempersembahkan korban kepada Allah pada waktu yang telah ditentukan, dan hendaklah bersikap demikian, hingga lepas daripada segala celaan.

Engkau bukanlah meringankan bebanmu, melainkan engkau kini telah terikat oleh ikatan kewajiban-kewajiban yang lebih keras dan berkewajiban menjadi lebih sempurna dan lebih suci pula.

Imam itu harus dihiasi dengan semua kebajikan dan memberi teladan hidup yang saleh kepada orang lain. (Pergaulannya bukanlah terdapat di antara orang ramai dan biasa ini, melainkan di antara para malaekat di surga atau dengan orang-orang yang sempurna di dunia).

3. Terhias dengan pakaian-pakaian suci, imam itu mewakili Kristus, untuk berdoa kepada Allah dengan giat dan rendah hati bagi diri sendiri, serta bagi seluruh umatNya.

Di muka dan di sebelah belakang ia memakai tanda salib Tuhan, supaya ia selalu merenungkan sengsara Kristus.

Di sebelah muka ia memakai salib di atas kasula, supaya tetap memperhatikan jejak Kristus, dan supaya berusaha dengan rajin mengikutiNya.

Di sebelah belakang ia mempunyai tanda salib Kristus pula, supaya segala rintangan yang ditujukan kepadanya oleh orang-orang lain, akan dapat diterima dengan sabar demi kehendak Allah.

Di sebelah muka ia memakai tanda salib, supaya ia menangisi dosa-dosanya sendiri, di sebelah belakang, supaya ia juga menyesalkan segala kesalahan-kesalahan orang lain dengan bebas kasihan, dan memikirkan, bahwa ia adalah perantara Tuhan dan orang berdosa, dan tidak berhenti-henti berdoa dan berkorban hingga ia diperkenankan memperoleh rahmat dan rahim.

Apabila imam mempersembahkan korban misa, maka ia menghormati Allah, menggembirakan para Malaekat, memuliakan Gereja, menolong yang masih hidup, memperoleh peristirahatan bagi yang telah meninggal dunia dan menyebabkan diri sendiri dapat bagian dari segala anugerah.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: