2.12. HAL KELUHURAN JALAN SALIB SUCI

2 03 2009

1. Bagi banyak orang berkata-kata berikut mungkin keras bunyinya: “Hendaklah menyangkal dirimu sendiri, ambillah salibmu dan ikutilah Yesus” (Mat. 16.24; Luk. 9.23).

Tetapi lebih keras lagi kedengarannya kata-kata hari terakhir berikut ini: “Pergilah dari hadapanKu, hai laknat, ke dalam api yang kekal” (Mat. 25.41).

Mereka yang dalam hidupnya sekarang suka mendengarkan dan mengikuti sabda salib, pada hari terakhir itu tentu tidak akan gentar mendengar diucapkannya putusan kekal tadi.

Tanda salib ini akan tampak di langit, apabila Tuhan datang untuk mengadili.

Pada saat itu semua hamba salib, yang semasa hidupnya telah menyesuaikan diri dengan Yang disalibkan, akan datang menghadap Hakim-Kristus dengan kepercayaan penuh.

2. Maka itu mengapa kita segan memanggul salib kita ? Padahal salib itulah yang akan membuka jalan ke surga bagi kita !

Di dalam salib itulah keselamatan, di dalam salib itulah kehidupan dan di dalam salib itulah perlindungan terhadap musuh-musuh kita. Saliblah sumber kenikmatan surgawi, sumber kekuatan jiwa dan kebahagiaan batin. Di saliblah tempat keutamaan tertinggi dan kesempurnaan hidup saleh.

Tak ada keselamatan bagi jiwa selain di salib, tak ada harapan akan hidup kekal kecuali di salib.

Maka itu marilah kita panggul salib kita dan marilah kita ikuti jejak Kristus dan kita tentu akan masuk ke hidup kekal.

Kristus telah mendahului kita sambil memanggul salibNya (Yoh. 19.17) dan Dia telah wafat di kayu salib untuk kita, agar kita juga mau memanggul salib kita dan mati disalibkan.

Sebab apabila kita mati bersama Kristus, kitapun akan hiudp bersama Dia pula; dan apabila kita ikutserta menderita bersama Kristus, kitapun akan ikutserta mulia bersama Dia.

3. Baiklah kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, bahwa segala-galanya sebenarnya sudah tercakup dalam salib dan dalam mati. Tak ada jalan lain yang menuju ke arah kehidupan dan ketenteraman batin yang sebenarnya, kecuali lewat jalan salib suci dan matiraga setiap hari.

Kemampuan kita pergi dan apapun yang kita cari: di atas tak akan kita menemui jalan yang lebih tinggi, sedang di bawah tak akan kita berjumpa jalan yang lebih aman, selain jalan salib suci.

Kita boleh mengatur segala sesuatu menurut kemauan dan keinginan kita sendiri, namun mau tidak mau kita akan selalu berjumpa dengan penderitaan dan kesengsaraan. Demikianlah di mana-mana kita akan selalu bertemu dengan salib.

Mungkin salib itu berupa sakit badani, mungkin berwujud kesulitan batin.

4. Kadang-kadang kita merasa ditinggalkan Tuhan, kadang-kadang merasa menderita karena perbuatan sesama manusia. Tetapi cobaan yang lebih berat ialah merasa bahwa kita sering merupakan beban bagi diri kita sendiri.

Meskipun demikian tidak ada jalan lain, atau penghiburan yang mampu meringankan beban kita itu selain selama Tuhan masih berkenan, kita harus tahan menderita.

Karena Tuhan menghendaki supaya kita belajar menderita tanpa penghiburan, agar kita menyerahkan diri kita sepenuhnya kepadaNya, dan agar oleh penderitaan itu kita menjadi lebih rendah hati.

Tak ada orang yang dapat merasakan sungguh-sungguh kesengsaraan Kristus, selain dia yang pernah mengalami penderitaan yang serupa.

Jadi di mana-mana salib sudah tersedia dan siap menanti kedatangan kita.

Kemanapun kita pergi, tak mungkin kita dapat menghindari salib. Sebab kemanapun kita pergi, kita selalu membawa diri kita sendiri dan kita selalu akan menjumpai diri kita sendiri.

Cobalah kita menengadah ke atas, menunduk ke bawah, melihat ke luar ataupun ke dalam, kita akan tetap berjumpa dengan salib. Dan pentinglah kiranya bahwa di mana-mana kita mesti tetap sabar bila kita ingin menikmati ketenteraman batin dan memperoleh mahkota abadi.

5. Jika kita memanggul salib kita dengan senang hati, maka salib akan mendukung dan membimbing kita ke tempat yang kita tuju. Di tempat itu berakhirlah segala macam penderitaan, suatu hal yang di dunia ini tidak akan terjadi.

Sebaliknya jika kita memanggul salib kita dengan rasa enggan, maka salib itu justru akan merupakan beban sangat berat bagi kita, padahal kita mesti juga memikulnya.

Seandainya kita berhasil meletakkan salib yang satu, salib lain tentu akan muncul, mungkin lebih berat daripada yang dahulu.

6. Tak seorangpun yang pernah hidup di dunia ini berhasil menghindari salib. Apakah kita mengira dapat menghindari hal yang tak pernah ada orang dapat menghindarinya ?

Siapa diantara para suci pernah terhindar dari percobaan-percobaan dan hidup tanpa memikul salib ?

Bahkan Tuhan kita Yesus Kristus sendiri, sekalipun hanya satu jam saja, tidak pernah luput dari kesengsaraan, selama hidupnya di dunia ini. Kristus, harus sengsara dan bangkit dari kematian dan demikianlah masuk dalam kemuliaanNya (Luk. 24.26) demikianlah sabdaNya. Jika demikian mengapa kita ingin mencari jalan lain daripada jalan luhur, yang disebut jalan salib suci itu ?

7. Seluruh masa hidup Kristus merupakan salib dan siksaan, sedang kita ingin mencari istirahat dan kesenangan bagi diri kita sendiri.

Sangatlah keliru, bila kita mencari lain daripada sengsara dan percobaan, sebab hidup di dunia yang fana ini penuh sengsara dan bertaburkan salib-salib.

Semakin maju orang dalam hidup kerohanian, biasanya malah makin beratlah salib yang dijumpainya. Sebab semakin besar cinta kasih orang terhadap Tuhan, semakin besar pulalah rasa sedihnya sebagai orang buangan di dunia.

8. Namun orang yang seringkali menderita bermacam-macam percobaan itu juga tidak terasingkan dari penghiburan sama sekali, sebab dia tahu, bahwa dari penderitaan salibnya itu tumbuhlah buah banyak sekali.

Sebab karena orang dengan suka rela bersedia memanggul salibnya, maka segala beban penderitaan lalu berubah menjadi kepercayaan atas penghiburan ilahi.

Makin berat orang dibebani penderitaan badani, makin kuatlah jiwanya karena rahmat batin.

Kadang-kadang akibat keinginan untuk menyamai Kristus yang disalibkan dan karena kemaunan untuk menderita sengsara dan kesusahan, maka jiwa orang malah menjadi demikian kuat dan sentosa, sehingga orang tadi tidak mau luput dari kesusahan dan percobaan. Sebab ia percaya akan lebih berkenan kepada Allah apabila ia makin banyak menderita untukNya.

Bukanlah jasa perbuatan manusia, melainkan rahmat Kristus yang mampu membangkitkan kekuatan pada orang yang lemah sifatnya itu, sehingga dengan semangat jiwa besar dan cinta orang bersedia melakukan hal-hal yang berdasarkan sifat kodrat kemanusiaannya ia benci dan ia hindari.

9. Bukanlah sifat manusia untuk memikul salib dengan gembira dan mencintainya, untuk mengekang hawa nafsunya dan menundukkan kemauannya demi untuk mengabdi; untuk menghindari kehormatan, menderita ejekan dengan gembira, meremehkan diri sendiri dan ingin supaya diremehkan orang lain; untuk menderita kemalangan dan kerugian dengan senang hati, untuk tidak mengharapkan kesenangan dan kebahagiaan di dunia sini.

Jika kita memandang diri kita sendiri, maka tak adalah kekuatan pada kita untuk berbuat semuanya itu.

Tetapi jika kita percaya kepada Tuhan, niscaya akan menerima kekuatan dari surga untuk menguasai dunia dan menundukkan hawa nafsu kita.

Terhadap setanpun kita tidak akan takut, bila kita mempunyai senjata iman dan tanda salib Kristus.

10. Maka itu sebagai hamba Kristus yang baik dan setia, marilah kita memberanikan diri memanggul salib Tuhan, yang karena cintakasihNya kepada kita telah disalibkan.

Hendaklah kita siapkan diri kita, untuk menderita banyak kepedihan dan bermacam-macam kesusahan selama hidup penuh duka nestapa ini, sebab di manapun juga kita akan mengalaminya, dan di manapun kita bersembunyi, kita akan menemuinya.

Memang itu harus kita alami dan tak ada jalan lain untuk menghindari kesukaran dan kesusahan, selain dengan menderitanya.

Jika kita ingin bersahabat dengan Kristus dan ikut serta berbahagia dengan Dia, kita mesti bersedia minum pialaNya dengan penuh cinta.

Mengenai soal penghiburan sebaiknya hal itu kita serahkan saja kepada kebijaksanaan Tuhan. Tuhanlah yang akan mengatur hal itu sesuai dengan kehendakNya.

Bagi kita marilah kita bertahan dalam segala percobaan dan kesengsaraan dan marilah kita pandang semuanya itu sebagai penghiburan yang paling besar, sebab kesengsaraan di dunia sini tak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan datang (Rom 8.18) sekalipun kita harus menderita sendiri.

11. Apabila kita sudah mencapai tingkatan, bahwa kita dapat merasakan nikmatnya percobaan-percobaan demi kehendak Kristus, maka dapat kita pastikan, bahwa kita berada dalam keadaan baik, karena kita telah menemukan surga di dunia sini.

Sebaliknya selama menderita sengsara masih kita pandang berat dan selama kita masih terus berusaha untuk menghindarinya, maka selama itu keadaan kita sungguh masih belum baik. Dan kemanapun kita hendak melarikan diri, pedihnya percobaan akan tetap mengejar kita.

12. Tetapi bila kita berusaha menjalankan tugas kewajiban kita, yaitu menderita sengsara dan siap akan mati, maka keadaan kita akan segera berubah menjadi lebih baik dan kita akan menemukan ketenteraman.

Walaupun andaikata kita dinaikkan ke surga ke tiga seperti Santo Paulus, kita belum juga akan luput daripada segala kesukaran. Sebab Yesus telah bersabda: Aku akan memperlihatkan kepadanya, betapa besar kesengsaraan yang harus dideritanya demi namaKu (Kis. Ras. 9.16).

Demikianlah kita akan tetap menderita sengsara, jika kita ingin mencintai Yesus dan mengabdi Dia untuk selama-lamanya.

13. Semoga kita pantas menderita sengsara demi nama Yesus. Betapa besar kehormatan yang akan kita terima, betapa besar kegembiraan para orang kudus Tuhan, dan betapa besar pula pengaruh baik kita itu baik orang-orang di sekeliling kita.

Sebab semua orang memuji-muji ketahanan hati untuk menderita, tetapi hanya sedikitlah yang benar-benar sanggup menderita sengsara.

Sudah menjadi kewajiban kitalah, kalau kita dengan senang hati mau menderita sengsara untuk Kristus, sebab tidak sedikit jumlahnya orang yang bersedia menderita lebih banyak untuk dunia.

14. Sekali-sekali janganlah kita lupa, bahwa mati raga merupakan jalan hidup kita. Makin keras mati raganya, makin bertambah teguhlah orang mulai hidup untuk Tuhan.

Tak ada orang dapat memahami soal-soal surgawi, kecuali ia yang bersedia menundukkan dirinya untuk menderita sengsara bagi Kristus.

Bagi Tuhan tak ada sesuatu yang lebih berharga dan bagi kita di dunia sini tak ada yang lebih bernilai untuk keselamatan kita, kecuali dengan suka hati bersedia menderita sengsara bagi Kristus.

Dan seandainya kita diperkenankan memilih, sebaiknya kita memilih menderita kesengsaraan untuk Kristus, daripada menginginkan menikmati banyak penghiburan. Sebab dengan demikian kita akan lebih mirip Sang Kristus dan lebih menyerupai para Kudus.

Sebab ganjaran dan kemajuan hidup rohani kita tidak terletak pada kenikmatan dan penghiburan, tetapi lebih pada penderitaan dan percobaan.

15. Seandainya ada syarat lain yang lebih baik dan lebih berguna bagi keselamatan orang, tentu Kristus telah memberitahukannya kepada kita baik dengan kata-kata maupun dengan teladan.

Tetapi kepada para murid yang mengikutinya dan semua orang yang ingin mengikuti Dia, dengan terus terang Kristus telah memberi nasihat: Jika orang ingin mengikuti Daku, hendaknya dia menyangkal diri sendiri dan memikul salibnya serta mengikuti Daku (Mat. 16.24; Luk 9.23).

Akhirnya setelah kita membaca semuanya dengan teliti dan merenungkannya dengan seksama, semoga kesimpulan kita ialah: Bahwa kita harus memasuki kerajaan Allah dengan melalui jalan kesengsaraan (Kis. Ras. 14.22).


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: