I.25. HAL RAJIN MEMPERBAIKI HIDUP KITA SENDIRI

12 02 2009

1. Haraplah waspada lagi rajin dalam berbakti kepada Tuhan dan ingatlah seringkali: Apakah tujuanmu di sini dan mengapakah engkau telah meninggalkan dunia ?

Bukankah untuk hidup bagi kemuliaan Tuhan dan agar menjadi orang yang mementingkan soal-soal kerohanian ?

Oleh sebab itu marilah kita sungguh-sungguh rajin berusaha mencapai kemajuan, karena tak berapa lama lagi kita akan menerima ganjaran bagi segala jerih payah kita. Maka selanjutnya tak akan ada rasa takut ataupun susah lagi bagi kita.

Sekarang kita harus bekerja sebentar saja, sesudah itu akan memperoleh istirahat lama, bahkan kenikmatan kekal.

Apabila kita rajin bekerja dan selalu setia, niscaya Tuhan akan membalasnya dengan setia pula dan murah hati.

Kita memang harus mempunyai harapan besar, bahwa kita akan memperoleh kemenangan. Tetapi kemenangan itu janganlah kita pastikan, agar supaya kita tidak menjadi kurang rajin ataupun sombong.

2. Pada suatu peristiwa ada orang yang selalu merasa terombang-ambing antara khawatir dan pengharapan. Sewaktu orang tersebut merasa sangat gelisah dalam hatinya, maka berlututlah ia di dalam gereja di muka altar dan berdoa dengan khidmad, pikirnya: “O, seandainya saya tahu, bahwa saya akan tetap setia bertahan sampai akhir!” Segera orang itu mendengar jawaban Tuhan di dalam hatinya: “Seandainya engkau tahu akan hal itu, apakah yang akan engkau perbuat ? Jalankanlah sekarang apa yang akan engkau perbuat itu, dan engkau tentu akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman di dalam hatimu”. Segera orang tersebut merasa terhibur dan mendapat kekuatan. Dia menyerahkan dirinya kepada kehendak Tuhan dan lenyaplah rasa bimbang dan khawatirnya.

Dan seterusnya orang tersebut tidak ingin mencari-cari atau meneliti lagi, apakah yang akan terjadi dengan dirinya di kemudian hari, tetapi yang lebih diutamakan ialah: memahami yang menjadi kehendak Tuhan yang sempurna yang berkenan kepadaNya (Rom 12.2), agar dengan semangat itu dimulainya dan disudahinya semua pekerjaan yang baik.

3. “Percayalah kepada Tuhan dan berbuatlah kebaikan” (kata Nabi), “dan diamilah muka bumi maka engkau akan mendapat makanan dari kekayaannya”. (Masm. 37.3).

Ada satu hal yang merupakan penghalang bagi orang banyak untuk maju dan mengusahakan perbaikan hidupnya, yaitu takut menghadapi kesulitan, atau kurang berusaha menentang lawan.

Padahal justru mereka yang dengan gagah beranni berusaha mengalahkan apa yang dirasakannya sangat berat, atau yang sungguh tidak mereka sukai, itulah yang pertama-tama mencapai kemajuan dalam perkembangan hidup rohani.

Kita akan makin maju dan makin banyak memperoleh rahmat, apabila kita makin banyak berolah matiraga.

4. Tetapi apa yang harus dikalahkan dan sifat buruk yang harus dimatikan itu memang tidak sama bagi setiap orang. Namun demikian, orang yang rajin dan bersemangat, meskipun ia itu mempunyai lebih banyak hawa nafsu, tentu akan lebih maju di jalan keutamaan, daripada orang yang berwatak baik, tetapi kurang rajin dan kurang bersemangat untuk mengejar kesempurnaan.

Teristimewa ada dua hal yang dapat membantu kita dalam mencapai kemajuan besar, yaitu: dengan sekuat tenaga berpaling dari yang tidak baik, karena kita memang mudah tertarik olehnya; dan keduanya dengan terus menerus mengejar yang baik, yang memang benar-benar kita butuhkan.

Haraplah berusaha untuk menghindari dan mengatasi segala sesuatu, yang kita tidak suka melihat pada orang lain.

5. Pergunakanlah segala kesempatan untuk mencapai kemajuan dalam perkembangan rohani, hingga tiap contoh baik yang kita lihat atau dengar, merupakan cambuk untuk kita tiru. Dalam pada itu jika kita melihat sesuatu yang patut kita cela, janganlah sekali-kali hal itu kita tiru. Atau bila kita sendiri sudah pernah menjalankan kesalahan, selekasnyalah hal itu kita perbaiki.

Seperti halnya kita memperhatikan perbuatan orang lain, demikian pula orang lainpun memperhatikan semua tindakan kita.

Alangkah senang dan segarnya melihat para biarawan yang rajin, penuh semangat, lagi pula berkelakuan baik dan tertib menjalankan semua peraturan.

Sebaliknya, alangkah sedih dan beratnya hati kita jika melihat orang yang hidupnya kurang baik, yang mengabaikan apa yang mestinya harus dijalankan sesuai dengan panggilan.

Sungguh besarlah kerugian yang diderita, apabila orang tidak memperdulikan tujuan panggilannya, sebaliknya justru menaruh perhatian pada hal-hal yang tidak masuk tugas kewajibannya.

6. Hendaklah kita ingat akan janji kita waktu dahulu dan bayangkanlah senantiasa di muka kita Tuhan Yesus yang tersalib itu! Bila kita mamandang hidup Yesus Kristus, sesungguhnya kita harus merasa malu, bahwa kita belum berusaha untuk menjadi lebih serupa dengan Dia, meskipun kita sudah lama mengikuti jalan Tuhan.

Seorang biarawan yang dengan sungguh-sungguh serta kasih mesra, merenungkan dalam-dalam hidup yang amat suci dan sengsara Tuhan Yesus Kristus, akan memperoleh apa saja yang berguna dan penting baginya dengan berlebih-lebihan. Dan dia tidak merasa perlu mencari yang lebih penting di luar Yesus.

Ah, seandainya Yesus yang disalibkan itu datang di dalam hati kita, alangkah cepatnya kita menjadi bijaksana !

7. Seorang biarawan yang rajin akan dengan suka hati menerima segala hal yang diperintahkan kepadanya.

Dalam pada itu seorang biarawan yang malas dan lemah semangatnya, akan mengalami kesulitan bertumpuk-tumpuk dan menemui jalan buntu di mana-mana. Sebab hiburan batin ia tidak ada, sedang mau mencari hiburan lahir tidak diperbolehkan.

Seorang biarawan yang tidak menghiraukan tata tertib biara boleh dikatakan berdiri di tepi jurang yang sangat berbahaya.

Orang yang ingin mencari kesenangan dan keleluasaan saja, akhirnya akan merasa terjepit, karena tentu tetap ada yang kurang menyenangkan hatinya.

8. Bagaimana sekarang hidupnya pertapa-pertapa lainnya yang banyak sekali jumlahnya itu, dan yang sangat terikat oleh tertib-peraturan biara ?

Mereka jarang keluar, hidup dalam perasingan, makan sangat sederhana, pakaian sangat kasar, bekerja keras, tidak banyak bicara, berjaga sampai malam dan pagi-pagi sudah bangun. Mereka banyak berdoa, banyak membaca dan selalu patuh kepada tertib peraturan biara.

Perhatikanlah hidupnya para anggota ordo Karthuizer, Cistercienser dan para biarawan/biarawati ordo-ordo lainnya. Mereka itu setiap malam bangun untuk memuji dan meluhurkan Tuhan dengan nyanyian-nyanyian Masmur.

Maka oleh sebab itu sungguh memalukan seandainya kita terlalu malas melakukan pekerjaan yang sungguh suci itu, sedangkan begitu banyak jumlahnya para biarawan yang pada saat itu mulai memuji-muji Tuhan.

Alangkah bahagia kita, seandainya kita tidak ada pekerjaan lain, kecuali memuji Tuhan dan Allah kita dengan hati dan mulut !

9. O, seandainya kita tidak membutuhkan makan, minum, dan tidur, tetapi terus menerus dapat memuji Tuhan dan berusaha untuk kemajuan di bidang kerohanian saja! Bila demikian halnya, kita tentu merasa jauh lebih bahagia daripada sekarang. Karena sekarang ini kita harus juga memikirkan kebutuhan-kebutuhan badan kita, sekalipun karena terpaksa oleh keadaan.

Ah, alangkah baiknya, seandainya kita tidak mempunyai kebutuhan-kebutuhan jasmani, malainkan hanya memiliki kenikmatan rohani, yang sayang sekali hanya jarang kita rasakan.

10. Apabila orang sudah mencapai tingkatan yang begitu tinggi, hingga ia tidak menginginkan hiburan dari makhluk manapun juga, barulah ia merasa dengan sempurna kenikmatan Tuhan; dan demikian pula ia baru akan puas dalam segala kejadian apapun juga.

Maka ia tidak akan bergembira tentang perkara yang besar, dan juga tidak akan merasa sedih karena hal yang kecil-kecil. Tetapi ia akan menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada Tuhan. Baginya Tuhan adalah segala-galanya, sedang bagi Allah tak ada barang yang musnah atau mahkluk yang mati. Sebaliknya semuanya hidup untuk Tuhan dan segala sesuatu mengabdikan diri kepada Tuhan atas isarat perintahNya.

11. Hendaklah kita selalu ingat akan saat akhir nanti, dan bahwa waktu yang sudah lewat itu tidak akan kembali lagi.

Kebajikan hanya dicapai dengan susah payah.

Bila semangat kita mulai surut, maka kita tidak akan memperoleh kebaikan.

Tetapi sebaliknya, jika kita memaksa diri kita supaya menjadi rajin dan bersemangat, maka kita akan lebih merasakan damai dan segala pekerjaan akan menjadi ringan karena rahmat Allah dan karena cinta kita akan kebajikan.

Orang yang rajin dan bersemangat tentu sanggup mengerjakan apapun juga.

Sungguh lebih berat menentang kejahatan dan hawa nafsu sendiri daripada menjalankan pekerjaan yang paling berat sekalipun.

Barangsiapa tidak menyingkirkan kekurangan-kekurangan yang kecil, lambat laun akhirnya dia mesti akan jatuh ke dalam kesalahan-kesalahan besar.

Waktu malam kita selalu akan merasa gembira, jika hari itu telah kita akhiri dengan hasil baik dan berfaedah.

Marilah kita waspada terhadap diri kita sendiri, kita gugah semangat kita, kita bombong hasrat kita. Dan bagaimanapun keadaan orang lain, janganlah kita mengabaikan diri kita sendiri.

Kita akan makin berkembang dalam bidang kehidupan rohani, selaras dengan makin kuatnya kita dapat mengendalikan hawa nafsu di dalam diri kita sendiri. Amin

 


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: