I.23. HAL MERENUNGKAN KEMATIAN

10 02 2009

1. Tak lama lagi akan tamatlah riwayat hidup kita di dunia ini; maka baiklah kita selidiki, bagaimana keadaan kita.

Hari ini orang masih hidup, tetapi besok dia sudah tidak ada lagi !

Padahal jika orang sudah lenyap dari muka pandangan umum, maka biasanya juga lekas lenyap pula dari ingatan orang banyak.

Oh, alangkah bodoh dan kerasnya hati kita, yang hanya memikirkan keadaan sekarang saja dan tidak bersiap-siap menghadapi waktu yang akan datang.

Dalam segala perbuatan hendaknya kita bersikap seakan-akan hari ini juga akan meninggal dunia.

Jika kita mempunyai suara hati yang bersih, apakah kiranya besok pagi kita akan siap ?

“Besok” merupakan hari yang tidak tentu, dan bagaimanakah kita tahu, bahwa kita masih akan mengalami hari besok ?

2. Apakah gunanya mencapai umur panjang, jika kita tidak cukup memperbaiki hidup kita ?

Ah, umur panjang tidak selalu membawa perbaikan, bahkan seringkali malahan menambah banyaknya kesalahan saja.

Alangkah bahagia kita, seandainya kita dapat hidup baik sehari saja di dunia ini;

Banyak orang menghitung-hitung tahun sesudah mereka bertobat, tetapi sering tidak terdapat banyak perbaikan dalam hidup mereka.

Jika mati itu kita pandang menakut-nakuti, maka umur panjang mungkin lebih berbahaya.

Bahagialah orang yang selalu ingat akan saat kematiannya, dan setiap hari mempersiapkan diri untuk menghadapi mati.

Apakah kita sudah pernah melihat orang pada saat ia akan meninggal dunia ? Baiklah kita ingat, bahwa jalan yang sama itu akan kita lalui juga.

3. Waktu pagi-pagi, janganlah kita berani menentukan, bahwa kita akan mengalami waktu malam.

Bila kita mencapai waktu malam, janganlah kita berani pula menentukan, bahwa kita masih akan mengalami waktu pagi.

Kita harus selalu siap sedia dan hidup kita hendaknya demikian, hingga maut tidak menemui kita dalam keadaan tidak siap.

Banyak orang meninggal sekonyong-sekonyong dan mendadak. Sebab pada waktu yang tidak disangka-sangka, Putera Manusia akan datang (Mat 14.42. Luk 12.40).

Bilamana saat-saat terakhir itu telah tiba, maka pandangan kita terhadap waktu yang telah lewat tentu akan sangat berlainan sekali. Dan kita tentu akan sangat merasa menyesal, karena kita telah hidup sembrono dan tidak hati-hati.

4. Alangkah bijaksana dan bahagianya orang yang dalam hidupnya sekarang berhaluan, seperti harapannya pada waktu ia akan menemui ajalnya.

Kita sungguh boleh mengharapkan ajal yang bahagia, bila kita sudah mengabaikan barang duniawi sama sekali mempuyai keinginan yang bernyala-nyala untuk maju dalam kebajikan, cinta akan peraturan biara, benar-benar bertapa dengan sekuat tenaga, taat dengan segala suka hati, menyangkal diri sendiri lagi pula menerima dengan sabar segala kesukaran demi cinta kasih akan Kristus.

Selama kita dalam keadaan sehat, kita dapat berbuat banyak kebaikan, tetapi kita tidak tahu, apakah yang masih dapat kita lakukan, bila kita jatuh sakit.

Tidak banyak orang yang menjadi lebih baik dalam hatinya karena menderita sakit. Demikian pula tidak banyak jumlahnya orang yang menjadi saleh karena sering berziarah ke tempat-tempat suci.

5. Janganlah kita banyak menaruh harapan kepada sahabat dan kaum keluarga kita dan janganlah menunda usaha kita untuk keselamatan jiwa kita. Sebab orang akan lebih cepat melupakan kita daripada yang kita duga.

Lebih baik sekarang ini kita berjaga-jaga dan mengumpulkan pekerjaan baik (sedia payung sebelum hujan), untuk waktu yang akan datang, daripada mengharapkan bantuan orang lain.

Bila sekarang kita tidak memperhatikan kepentingan kita, siapakah yang akan memperhatikan kita di kemudian hari ?

Waktu sekarang sungguh sangat berharga. Sekaranglah saat yang bahagia; sekaranglah saat yang diperkenan Allah (2 Kor. 6.2).

Tetapi alangkah sayangnya, bahwa waktu ini tidak kita pergunakan lebih baik, sedang mestinya saat ini adalah kesempatan untuk memperoleh harta yang kekal.

Sekali datanglah saatnya, bahwa kita ingin benar mengalami satu hari, bahkan satu jam saja, untuk memperbaiki diri kita; dan kita tidak tahu, apakah kesempatan itu akan kita peroleh.

6. Lihatlah sahabatku, kita akan terlepas dari bahaya dan ketakutan yang besar, jika sekarang sudah selalu memperhatikan keadaan kita dan selalu ingat akan dipanggil Tuhan.

Oleh Karena itu, baiklah kita berusaha hidup demikian rupa, hingga pada saat meninggal dunia kita lebih merasa gembira daripada merasa takut.

Baiklah mulai sekarang kita belajar mati bagi dunia, supaya dengan demikian kita dapat hidup bersama Kristus.

Siksalah badan kita dengan puasa dan matiraga, agar kita dapat teguh dalam harapan kita.

7. Hai orang dungu, mengapa kita mengira akan hidup lama, sedangkan kini kita tidak tentu akan satu hari saja!

Berapa banyaknya orang yang tertipu dan sekonyong-konyong meninggal dunia ?

Tidakkah kita sering mendengan orang berkata: Ia mati ditusuk pedang, ia mati tenggelam, ia jatuh dari atas dan patah lehernya; yang lain mati sedang makan dan yang lain lagi sedang bermain ? Itu mati terbakar, orang ini mati karena senjata, yang satu karena penyakit pes dan yang lain karena dibunuh orang. Demikianlah semua orang akhirnya mati dan hidup manusia berlalu sebagai bayangan.

8. Siapakah yang masih akan ingat kepada kita jika kita sudah mati ? Dan siapa yang akan berdoa untuk kita ?

Maka, Saudara yang tercinta, marilah kita kerjakan sekarang apa yang dapat kita kerjakan. Sebab kita tidak tahu, kapan kita akan mati dan kita tidak tahu apa yang akan kita alami sesudah mati.

Marilah kita kumpulkan harta yang tidak dapat binasa, selama kita masih mempunyai kesempatan. Janganlah kita memikirkan bermacam-macam hal, selain kebahagiaan kita, dan hendaklah kita hanya memikirkan hal-hal bertalian dengan Allah.

Carilah sekarang sahabat-sahabat dengan menghormati orang-orang kudus dan menyontoh perbuatan mereka, agar kita bila telah meninggal dunia dapat diterima dalam kemah-kemah yang abadi (Luk. 16.9)

9. Hendaklah di dunia ini kita berhaluan seperti orang yang sedang bepergian dan sebagai orang asing, yang tak mempunyai sangkut paut dengan soal-soal duniawi.

Kita bebaskanlah hati kita hendaknya dan kita arahkan kepada Tuhan, karena kita di sini tidak mempunyai tempat tinggal yang kekal (Ibr. 13.14).

Panjatkanlah doa dan permohonan kita setiap hari disertai dengan cucuran air mata ke hadirat Tuhan, agar jiwa kita setelah meninggal dunia layak menerima anugerah Tuhan. Demikianlah hendaknya.

 

 


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: